Falsafah Al-baqarah 156

Falsafah surat Al-Baqarah 156

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (انا لله وانا اليه راجعون) adalah potongan dari ayat Al-Quran, dari Surah Al-Baqarah, ayat 156. Isi penuh ayat tersebut adalah:
الذين اذا اصابتهم مصيبة قالوا انا لله وانا اليه راجعون
"(Yaitu) orang-orang yang apabila mereka ditimpa oleh suatu kesusahan, mereka berkata: Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali."
Bacaan tersebut dikenal dengan sebutan bacaan tarji'. Tarji' merupakan frase umat Islam apabila seseorang tertimpa musibah dan biasanya diucapkan apabila menerima kabar duka cita seseorang. Frasa ini biasanya diterjemahkan "Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada Allah jualah kita kembali."
Umat Islam mempercayai bahwa Allah adalah Esa yang memberikan dan Dia jugalah yang mengambil, Dia menguji umat manusia. Oleh karenanya, umat Islam menyerahkan diri kepada Tuhan dan bersyukur kepada Tuhan atas segala yang mereka terima. Pada masa yang sama, mereka bersabar dan menyebut ungkapan ini saat menerima cobaan atau musibah.

Tapi seiring waktu makna dari ayat Allah tersebut menjadi sedikit bergeser, saya sendiri memahami bahwa ayat tersebut diperuntukkan untuk segala hal yang menjadi milik kita namun sudah hilang. Dijaman ini ayat tersebut hanya ditujukan pada kematian saja, dan itu seolah menjadi paradigma sendiri di masyarakat. Itu catatan saya yang pertama, bahwa surat Al-baqarah 156 bukan hanya ditujukan saat kita melihat orang kehilangan nyawa. Tapi juga bisa diartikan sebagai kehilangan harta benda, musibah, bencana dan sebagainya.

Salah makna yang saya dapati berikutnya adalah perdebatan mengenai tangisan kita terhadap mayat, ada sebagian ulama yang berkata bahwa kita boleh menangis mengingat yang meninggal adalah orang dekat kita. Jadi wajar kalau kita menangis, ada sebagian yang berpendapat bahwa air mata kita adalah siksaan bagi mayat, maka boleh menangis asal jangan terkena mayat. Dan masih banyak lagi
Kalau saya pribadi menyikapi itu sebagai wacana simple

Begini logika saya, dalam surat Al-Baqarah disebutkan bahwa kami kepunyaan Allah dan kepada Allah juga kami kembali.
Kita coba bayangkan, jika kita tidak ikut memiliki suatu barang benda. Katakanlah mobil milik keluarga desa sebelah, keesokan harinya mobil tersebut hilang. Mungkinkah kita menangis?
Secara alamiah manusiawi kita tidak akan menangis dan bahkan tidak boleh dan tidak mungkin menangis karena benda itu bukan milik kita.
Pun sama ketika kita ditinggalkan orang tua, anak, saudara atau siapapun orang dekat kita karena dipanggil Allah.
Maka kita tidak boleh menangs karena itu bukan punya kita, itu punya Allah SWT dan akan kembali pada Allah SWT.
Oleh sebab itu Rasulullah Muhammad, Abu bakar as sidiq dan juga sahabatnya Umar bin Khatab begitu marah dan melarang apabila ada seseorang yang menangisi kematian. Karena itu hukumnya haram di mata Allah SWT.
Semoga bermanfaat
Created by DANI CAMARA

z Suara Gresik | # - # | Mengembalikan Gresik sebagai kota santri, yang taat beribadah, rajin mengaji, dan pekerja keras, tak akan meninggalkan ajaran agama Islam

Didukung oleh :f Afandi, Blogger, Tenda Suwur, GMP, Mode suwur, OmaSae, #, - # -